| |
5 September 19.00 Scoops Coffee Shop
Diskusi “ Homosexual Dalam Kebijakan Pemerintah”
Moderator : Ari Aryanto (Redaktur INDO POS)
Narasumber : Nur Syahbani Kacasungkana ( Komisi III DPR RI)
Jhonson Panjaitan (Ketua PBHI)
Rido Triawan (Ketua Arus Pelangi)
Problem perlindungan hak-hak kaum homoseksual di Negara ini merupakan agenda yang masih jauh api dari panggang yang artinya disadari atau
tidak penindasan dan perlakuan yang tidak adil terhadap kelompok homoseksual kian lama kian kentara, bila kita mau mencermati perda-perda
yang mulai diberlakukan di beberapa daerah yang menyebutkan bahwa homoseksual tergolong pada pelacuran dan ini sebenarnya sudah sangat
menyalahi paham demokrasi yg dianut oleh Negara yang mana bahwasanya harus menjamin kebebasan individu setiap warga Negara untuk mengekspresikan keberadaanya.
Arus pelangi sebagai sebuah ormas LGBT ( Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender ).
Memang sengaja mengusung tema homoseksual sebagai salah satu wujud komitmen arus pelangi untuk selalu menyuarakan kebenaran dan keadilan.
6 September 19.00 GoetheHaus
Peluncuran dan diskusi "Fenomena Homoseksual dalam Masyarakat Urban"*
Dalam peluncuran Novel "Being Ing" dan Kumpulan Cerpen "Dunia di Kepala Alice" karya Ucu Agustin.
Benarkah homoseksual cuma fenomena sesaat seiring semakin hedonisnya
kehidupan urban? Atau sesuatu yang ada sejak dulu, namun sekarang mereka
lebih "tampil" karena homoseksual dianggap wajar dalam masyarakat modern?
Dalam tulisannya, Ucu Agustin sering menampilkan tokoh-tokoh homoseksual
yang menjadi bagian utuh dalam cerita. Bahkan dalam Being Ing, sang
tokoh utama (perempuan) jatuh cinta pada lelaki gay. Apakah sudah tidak
ada lelaki straight di Jakarta ini?
7 September 19.30 Cemara 6 Galeri
Diskusi “Homoerotika dalam Film Indonesia”
Berbeda dengan, misalnya, “Arisan” (Nia Dinata) yang menampilkan sub-plot hubungan yang secara eksplisit menggambarkan homoseksualitas, atau “Tentang Dia” (Rudi Soedjarwo), yang sebaliknya, menyiratkan sebuah impresi homofobia,
“Gie” karya Riri Riza (juga karya sebelumnya, “Eliana, Eliana”) menampilkan hubungan sesama jenis dengan perspektif yang terbuka untuk ditafsirkan.
Belakangan, Upi Avianto menyeruak dengan “Realita, Cinta dan Rock N Roll”
yang seolah memberi garis tebal atas satu kecenderungan kecil, juga kejutan dan godaan, yang barangkali tak banyak terperhatikan dalam produksi film Indonesia dewasa ini.
Homoerotika.
Apakah Anda mencium aromanya?
Mengendus kemunculannya? Yang diam-diam, agak malu-malu, tapi menegaskan sesuatu. Bahwa ada yang perlu dimaknai kembali dalam hubungan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, laki-laki dan laki-laki serta perempuan dan
perempuan dalam masyarakat Indonesia modern.
Atau, Anda malah masih bengong-bengong dan bertanya-tanya, makluk apa itu homoerotika? Benarkah ia ada dalam film Indonesia selama ini, terutama di era kebangkitannya sepuluh tahun belakangan?
Ikuti diskusinya.
8 September 19.00 Centre Culturel Francais
Bedah Buku “Indahnya kawin sesama jenis”
Moderator : Tri Utami (Artis)
Narasumber : Adib (Penulis buku)
Eva K Sundari (Komisi III DPR RI)
Widodo Budidarmo (Aktivis Homosexual)
Pandangan bahwa konsep perkawinan adalah untuk memelihara keturunan adalah pandangan konvensional sekaligus “tradisional” yang terus bertahan hingga kini,
pandangan demikan bukanlah suatu yang “baku” sifatnya, sebab seiring perkembangan sosial maka konsep tentang keluarga (dan perkawinan tentunya) juga mulai bergeser.
Sekarang sudah mulai dipertanyakan apakah perkawinan itu “sakralis” atau “hedonis”?
Dengan begitu, pandangan mengenai perkawinan sebagai medium memelihara keturunan adalah sangatlah relative.
Ada banyak orang yang melakukan ikatan pernikahan hanya untuk “berbagi rasa”, kasih sayang, sementara anak bias diperoleh dengan cara lain.
Untuk mewujudkan gagasan perkawinan sejenis ini, penulis mencoba membuka pembongkaran ditingkat wacana keagamaan, yakni teks-teks skriptural dan struktur normative yg masih bias terhadap kaum homoseksual.
Fenomena gay dan lesbian adalah fenomena yang natural dan given (rahmat dari Tuhan) bukan kontrusksi sosial.
|
|